wordpress

0
146

Mojokerto – Menjelang persidangan dua pelajar SMAN I di Jalan Jawa, Kota Mojokerto, pihak keluarga terdakwa ditelepon oleh orang tak dikenal. Dalam percakapan tersebut, oknum tersebut meminta agar pihak keluarga memberikan hadiah sebagai ucapan terima kasih alias pungutan liar (pungli).
Salah satu bapak terdakwa, Kairan (54) mengatakan, ia menerima telepon seseorang sebelum persidangan dimulai. ”Dia tanya apa benar, saya Kairan. Setelah saya jawab iya, dia mengatakan jika anak saya bebas saya akan memberikan apa sebagai ucapan terima kasih,” ungkapnya, Kamis (12/01/2011) tadi sore.

Masih kata warga Ngaglik Gang Gotong Royong 6, Keluruhan Krangan, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto ini, dalam percakapan singkat tersebut, oknum tersebut mengatasnamakan pegawai Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto.

”Katanya, anak sampeyan nanti jam 2 kan sidang. Kalau ingin diputuskan tidak bersalah berarti bebas, setelah bebas atau sebelum bebas itung-itungan dulu. Kira-kira bapak mau kasih apa sebagai ucapan terima kasih,” tirunya.

Satpam pada salah satu rumah sakit terkemuka di Kota Mojokerto ini melanjutkan, ia mengerti jika yang dimaksud adalah untuk memberikan sejumlah uang. Namun karena tidak memiliki uang, iapun tidak menjawab pertanyaan si penelepon tersebut.

”Dia tidak menyebutkan angka, hanya menanyakan kira-kira saya akan memberikan apa sebagai ucapan terima kasih. Dalam satu hari ini, sebelum sidang ada empat kali mulai pukul 11.00 WIB tadi. Ini nomornya masih saya simpan,” sambil menunjukkan salah satu nomor telepon.

Sementara itu, Ketua Majelis Hakim, Purnama mengaku tidak mengetahui perihal permintaan ucapan selamat dari seseorang yang mengatasnamakan pengawai PN Mojokerto tersebut. ”Ucapan terima kasih, saya tidak tahu, tidak ada seperti itu. Saya tidak tahu siapa yang ngomong,” ujarnya sebelum sidang digelar.

Seperti diberitakan sebelumnya, RB (17) siswi kelas 10-8 dan MAA (17) siswi kelas 10-5, keduanya pelajar SMA 1 Kota Mojokerto harus menjalani persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Karena, mereka dianggap telah menganiaya teman satu sekolahnya R yang merupakan anak salah satu pejabat di Pemkot Mojokerto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here