Kasus Perkosaan Perempuan Masih Marak

0
65

Mojokerto – Puluhan aktivis buruh dan mahasiswa yang tergabung dalam Komite untuk Keadilan Perempuan menyerukan banyaknya kasus pelecahan terhadap perempuan dalam peringatan Hari Perempuan Internasional ke-102 di Alun-alun Kota Mojokerto.
Data yang diperoleh dari Komisi Nasional (Komnas) Perempuan mencatat, dari tahun 1998 hingga 2010 terdapat kasus pemerkosaan. Jenis kekerasan yang paling banyak terjadi sebanyak 4.845 dari 8.784 kasus. Lebih dari 3/4 kasus kekerasan seksual yang dilakukan orang-orang terdekat korban.

Sementara data di BPPKB Jawa Timur menyebutkan, dari total 1.270 kasus kekerasan yang terjadi di 33 kabupaten/kota selama 2011 tercatat sebanyak 471 kasus kekerasan fisik, sebanyak 112 kasus kekerasan psikis, sebanyak 513 kekerasan seksual, sebanyak 14 kasuys berupa eksploitasi dan sebanyak 96 kasus penelantaran.

Sebanyak 614 kasus kekerasan terjadi dalam rumah tangga dan 19 kasus terjadi di tempat kerja. Jumlah Kasus Dalam Rumah Tangga (KDRT) mengalami peningkatan 11 persen dibanding tahun sebelumnya. Tak terkecuali di Mojokerto, kasus pemerkosaan serta kasus buruh perempuan yang mendapatkan upah tidak layak serta tak dipenuhi hak-haknya.

Koordinasi aksi, Iis Ratnawati mengatakan, munculnya 154 perda diskriminatif terhadap perempuan semakun mengukuhkan stigma jika kekerasan seksual terjadi karena kesalahan perempuan. ”Situasi masyarakat patriarkhi menempatkan perempuan sebagai makhluk kedua, menyebabkan perempuan rentan terhadap situasi kekerasan,” ungkapnya, Kamis (08/03/2012).

Situasi tersebut menyebabkan kasus kekerasan seksual sulit untuk diungkap karena korban justru khawatir akan mendapat hujatan dari masyarakat. Pasalnya kejahatan seksual yang menimpah korban adalah karena perilaku korban tidak bisa berperilaku sesuai dengan yang masyarakat inginkan.

”Untuk itu, Komite untuk Keadilan Perempuan menuntut, negara harus mengusut tuntas kasus pemerkosaan, mencabut segala perda atau kebijakan yang mendiskriminasikan perempuan, memberikan keadilan dan pemulihan bagi korban kekerasan seksual, menghentikan segala bentuk pelabelan negatif pada perempuan serta upah layak dan setara untuk pekerja perempuan,” tegasnya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here