Lahir Tanpa Anus, Raditya Butuh Bantuan

0
133

Mojokerto  – Sekilas, tak ada yang janggal dari Raditya Akira Ananta Nosi (6,5). Balita ini tumbuh layaknya bocah seusianya, bahkan kesehariannya tampak seperti bayi pada umumnya. Lucu dan mengemaskan bagi yang melihatnya.
Namun jika celana bayi pasangan Boni Sugiarta (22) dan Oktavia Taniar (21) ini dibuka, maka terlihat ada daging di sisi kiri bayi tersebut. Daging berwarna merah tersebut seperti tumbuh dengan panjang 10 meter, melalui inilah ia membuang kotoran sisa makanannya.

Radit (panggilan, red) terlahir prematur, dalam usia delapan bulan ia lahir melalui operasi caesar di RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo, Kota Mojokerto dengan berat 1,9 kilogram dan panjang 43 cm. Dalam kandungan delapan bulan, air ketuban Oktavia pecah sehingga dokter menyuntik penguat.

Namun, dokter memutuskan untuk mengeluarkan si bayi meski tubuh bayi sangat kecil yakni 1,9 kilogram. Pasalnya, kemungkinan terburuk jika tidak dilahirkan saat itu, dokter menjelaskan tidak bisa tanggung jawab sehingga diputuskan untuk dilahirkan saat itu juga.

Pasca kelahirannya pada 19 Agustus 2011 lalu, bayi laki-laki anak pertama warga Jagalan Lor gang kecil II RT 2 RW 3 Kecamatan Magersari, Kota Mojokerto terlihat normal tak ada yang berbeda. Namun setelah dilakukan pengecekan di ruang Neonatus, diketahui jika ia terlahir tanpa anus.

”Dokter tidak tahu kalau dia tidak punya anus karena perawat yang mengatakannya, sebenarnya ada tapi tidak berlubang. Di perut bagian kiri ada daging seperti usus yang keluar, saat lahir dulu kecil tapi sekarang besar dan panjang,” ujar nenek Radit, Tuamah (42), Kamis (08/03/2012) tadi sore.

Kemudian pihak rumah sakit meminta agar Radit dibawa ke RSU dr Soetomo, Surabaya untuk dilakukan operasi karena di RSU Dr Wahidin Sudiro Husodo fasilisnya tidak memadai. Operasi dilakukan agar Radit bisa mengeluarkan kotoran sisa makanannya.

Mengandalkan kartu Askeskin, anak buruh borongan di salah satu pabrik di Sidoarjo ini kemudian dibawa ke RSU dr Soetomo, Surabaya. Karena persyaratan ada yang kurang, saat masuk ke RSU dr Soetomo, Surabaya membayar biaya masuk namun setelah syarat kartu Askeskin terpenuhi semua biaya gratis.

”Operasi gratis, kita hanya membeli obat yang tidak ada dalam daftar kartu Askeskin. Setelah operasi, dia bisa buang kotoran tapi melalui usus yang keluar itu, dia juga tidak mengeluh karena ia tidak rewel setelah menjalani operasi,” lanjutnya.

Pasca operasi, ia tak langsung bisa sembuh karena dokter menyarankan untuk melakukan operasi kedua kalinya. Operasi akan kembali dilakukan di RSU dr Soetomo, Surabaya pada Selasa (13/03/2012) minggu depan. Ia berharap cucunya bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah sehingga biaya operasinya gratis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here