Pengrajin Tempe Mulai Gulung Tikar Karena Isu Kenaikan BBM

0
92

Mojokerto – Meski rencana kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) baru akan digulirkan per 1 April mendatang namun imbas mulai para pengrajin tempe di Kota Mojokerto. Pasalnya, bahan pokok kedelai sudah naik dan merekapun mulai gulung tikar.
Salah satu pengrajin tempe di Balong Krai, Kelurahan Pulorejo, Kecamatan Prajuritkulon, Kota Mojokerto, Sunaryo (50) mengatakan, omset dibawah 50 kilogram bisa gulung tikar jika pemerintah menaikan harga BBM. “Sekarang saja harga kedelain sudah naik,” ungkapnya, Selasa (20/03/2012) tadi siang.

Menurutnya, harga tempe tidak bisa dinaikan, para pengrajin hanya bisa memperkecil ukuran tempe. Harga bahan pokok pembuatan tempe naik Rp500, masih kata Sunaryo, pengrajin tempe di Kota Mojokerto sudah banyak yang gulung tikar. “Untuk pembuatan Tempe, kita ambil kedelei impor dari Amerika karena kualitasnya baik. Kalau kedelai lokal untuk pembuatan tahu karena tempe diambil biji sehingga kualitas lebih baik yang impor. Satu hari, kita habis 1 kwinta, harganya ini sudah mulai naik dari Rp5 ribu jadi Rp5.300 hingga sekarang Rp6 ribu,” katanya.

Di tempatnya, Sunaryo membuat empat jenis tempe, tempe plastik, kapuk, bungkusan daun pisang dan atos. Tempe plastik dijual per lonjor dengan harga Rp20 ribu, tempe bungkus daun pisang Rp2 ribu dan tempe kapuk Rp2,5 ribu. Tempe produksi dijual ke sejumlah pasar di Kota Mojokerto.

“Ukuran tempe diperkecil memang banyak yang komplai tapi mereka menyadari karena bahan bakunya naik. Kita diuntungkan dengan adanya koperasi sehingga pembeli tidak bisa mempermainkan harga,” jelasnya.

Masih kata Sunaryo, pembuatan tempe memakan waktu tiga hari proses, mulai tahapan pembersihan, peragian hingga jadi sehingga tidak bisa langsung dijual. Pendapatan bersih sebelum kenaikan Rp150 ribu-Rp160 ribu kotor, dia berharap pemerintah bisa memberikan solusi jika rencana tersebut benar-benar direalisasikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here