Seniman Ludruk Mojokerto Berharap Dilibatkan Restorasi Majapahit

0
49

Mojokerto  – Keberadaan kesenian ludruk semakin terkalahkan dengan modernisasi. Namun dengan rencana restorasi bekas Kerajaan Majapahit di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto menjadi harapan para seniman di Mojokerto diberikan ruang terbuka untuk kembali hadir di masyarakat.

Pimpinan Ludruk Karya Budaya, Eko Edy Susanto mengatakan, ludruk merupakan salah satu kesenian Jawa Timur berupa drama tradisional dengan seni panggung yang umumnya seluruh pemainnya adalah kaum Adam. ”Ceritanya banyak mengambil dari kehidupan masyarakat sehari-hari, menentang budaya feodal karena banyak menceritakan tentang persamaan derajat manusia,” ungkapnya, Kamis (17/05/2012) tadi sore.

Yang menjadi ciri khas dari ludruk, adanya gamelan sebagai musik, menggunakan bahasa khas Surabaya, dalam pementasan awalnya dimulai dengan tari remo serta diselingi dengan pementasan tokoh yang memerankan ”Pak Sakera”, jagoan dari Madura. Tanpa itu semua, masih kata Ketua Umum Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto ini, bukan disebut ludruk.

”Ludruk sendiri jarang melakonkan cerita Kerajaan Majapahit, karena ludruk sendiri bercerita tentang penetangan terhadap budaya feodal, yang banyak diceritakan dalam sebuah kerajaan-kerajaan seperti bentuk penyembahan terhadap yang dihormati. Ludruk menghilangkan itu karena cerita lebih mengangkat persamaan derajat manusia,” katanya.

Meski diakui, sedikit cerita atau lakon tentang budaya feodal pada jaman kerajaan juga masuk dalam lakon ludruk pimpinannya tersebut, seperti cerita demang (seorang pemimpin di suatu wilayah, red). Meski saat ini, banyak permintaan ludruk dengan cerita religi namun cerita tentang Demang Wiro Bastam yakni Lurah Tantomo, Watu Blorok, Kupang yang ada di utara sungai. ”Lakon sendiri sesuai permintaan, saat ini banyak mengangkat cerita religi dibanding cerita rakyat tapi cerita tentang Demang Wiro Bastam juga pernah kita tampilkan. Kalau murni tentang Kerajaan Majapahit tidak ada karena cerita tentang keraton atau kerajaan tidak disukai. Ludruk lebih mengkritisi tentang kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat, karena itu ludruk pernah dibubarkan di era orde baru sekitar tahun 1965,” jelasnya.

Masih kata pensiunan PNS Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (P & K) Kota Mojokerto ini, ludruk kemudian ditampilkan dalam binaan masing-masing Kodam sekitar tahun 1967. Ludruk pertama kali adalah di Malang yakni Ludruk Wijaya Kusuma pasca pembubaran oleh pemerintah orde baru. Peran ludruk disini lebih ke penerangan terhadap program pemerintah ke masyarakat.

”Awalnya ludruk itu dari seni badan, tidak ada musik maupun rias yang hanya menunjukkan kekuatan fisik kemudian bergeser ke barat dengan munculnya seni lerok yakni sedikit rias pada wajah para pemainnya. Abad 18 seni leras yang dimainkan empat orang dan baru sekitar tahun 1930, muncul seni ludruk itu sendiri yang mengambungkan seni bantengan, debus dan tari,” urainya.

Saat ini, kesenian ludruk meski sudah terkalahkan dengan modernisasi namun ludruk pimpinannya masih menerima permintaan manggung rata-rata per bulan 10 kali. Baik manggung di wilayah Mojokerto sendiri maupun luar Mojokerto seperti, Surabaya, Gresik, Malang dan Lamongan. Karena masih kata Edy Karya (sapaan akrab, red), tidak setiap waktu ludruk bisa dipentaskan.

”Ada empat bulan menurut penanggalan jawa yang tidak boleh ludruk manggung yakni bulan puasa, selo, suro dan sapar. Namun ada juga yang tetap meminta pentas di bulan itu seperti di Surabaya, untuk hari biasanya banyak permintaan di hari minggu. Untuk saat ini, permintaan ada penurunan setelah ditinggalnya Alm Supali berpulang tapi bulan depan ada 14 tempat yang akan kita datangi,” tuturnya.

Dengan adanya rencana restorasi bekas Kerajaan Majapahit tersebut, pihaknya berharap ada ruang untuk para seniman di Mojokerto menyalurkan bakat seninya. Meski diakuinya, para seniman di Mojokerto tidak pernah dilibatkan dalam rencana besar untuk membuat Taman Majapahit di kawasan Trowulan tersebut. Ia berharap, ada tempat yang dikhususkan untuk para seniman di Taman Majapahit nantinya. ”Selama ini, kita tidak pernah dilibatkan dalam hal ini. Kita memang sudah dengar adanya rencana tersebut tapi kita tidak pernah diajak membicarakan tentang ini. Kalaupun kita boleh berharap, kita ingin dilibatkan dalam rencana besar ini tapi kalaupun tidak dilibatkan juga tidak masalah tapi kita masih berharap jika Taman Majapahit ini benar-benar berdiri, kita para seniman bisa berperan disana,” harapnya.

Menurutnya, masih sedikit tempat untuk para seniman di Mojokerto. Festival Bulan Purnama yang digelar Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto di Candi Wringin Lawang, lanjut Edy Karya, merupakan salah satu alasan untuk menunjukkan keeksistensian para seniman Mojokerto agar dikenal masyarakat. Sehingga dengan adanya Taman Majapahit nantinya diharapkan, para seniman turun serta berperan disana untuk memperkenalkan kesenian lebih dikenal lagi dalam masyarakat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here