Bangkitkan Budaya Lokal Melalui Musik Patrol Pengantar Sahur

0
138

Mojokerto –Patrol merupakan kesenian tradisional dari alunan musik yang keluar dari bambu yang dipukul dengan ritme yang sama dan kini sudah jarang kita jumpai. Biasanya digunakan untuk warga memberikan tanda saat terjadi sesuatu atau digunakan untuk membangunkan orang tidur saat bulan Ramadhan.
Fenomena matinya musik patrol pengantar makan sahur inilah menginsipirasi para senimam yang tergabung dalam Dewan Kesenian Kabupaten Mojokerto (DKKM) menggelar lomba musik patrol. “Ini merupakan tahun ketiga,” ungkap Ketua Bidang Program DKKM, Hadi Sucipto, Kamis (02/08/2012) malam.

Lomba itu, kata Hadi, merupakan bagian dari Festival Bulan Purnama yang digelar DKKM tiap bulan di pelataran Candi Wringin Lawang di Desa Jati Pasar, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Jika di tahun awal hanya diikuti peserta dari tingkat kecamatan di Kecamatan Trowulan, namun kini pesertanya berasal dari luar Kabupaten Mojokerto.

“Musik patrol adalah budaya yang telah lama terlahir, kearifan budaya lokal seperti ini perlu dilestarikan. Lomba musik patrol kita gelar bertepatan dengan bulan suci Ramadhan semata-mata agar masyarakat bisa menumbuhkan kembali budaya patrol yang menjadi simbol kerukunan. Semoga ini bisa menjadi langkah awal yang baik,” katanya.

Di tahun awal, lanjut Hadi, lomba hanya untuk tingkat kecamatan dengan jumlah peserta sebanyak 19 peserta, tahun kedua meningkat menjadi tingkat kabupaten dengan jumlah peserta sebanyak 22. Di tahun ketiga penyelenggaraannya mulai dilirik peserta dari luar Kabupaten Mojokerto, dengan total peserta sebanyak 30 peserta.

“Tahun ini, mulai ada dari luar Kabupaten Mojokerto yakni dari Tarik, Sidoarjo. Tak hanya itu, pihak lain tak hanya pemda setempat juga mulai melirik bangkitnya budaya di Kabupaten Mojokerto ini. Jika sebelumnya panitia mandiri, sekarang sudah banyak pihak yang membantu dalam penyelenggaraannya. Semoga ke depan lebih baik,” urainya.

Selain ingin membangkitkan budaya lokal, tujuan DKKM dengan adanya Festival Bulan Purnama, lanjut Hadi, adalah ingin memperkenalkan situs peninggalam Kerajaan Majapahit, khususnya yang ada di Kecamatan Trowulan. Melalui lomba-lomba yang setiap bulannya berbeda tema, DKKM memiliki cita-cita agar budaya dan warisan leluhur bisa dilestarikan dan lebih dikenal masyarakat luas.

“Karena saat ini, saya melihat antusiasme masyarakat terhadap budaya khususnya Festival Bulan Purnama cukup tinggi. Terbukti, kehadiran Festival Bulan Purnama di pelataran Candi Wringin Lawang selalu dinanti. Pasalnya, kita juga mengemas acara ini sedemikian rupa dengan tema yang berbeda setiap bulannya,” tambahnya.

Salah satu peserta dari SMK PGRI Kota Mojokerto, Dinda Ayu Nasiti mengaku, ini kali pertama ia mengikuti lomba musik patrol. Bersama delapan temannya dari sekolah yang sama, ia menciptakan musik patrol dalam satu konsep. “Satu minggu saja, kita latihan. Satu hari langsung dapat konsep karena kita sesuaikan dengan keinginan masing-masing dalam pembagian tugasnya,” tuturnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here