Mbah To 30 Tahun Konsumsi Puyer Walang Kerik

0
385

Mojokerto –Sekilas tak ada yang berbeda dengan sosok Wito (60) warga Jalan Prapanca 48, Kelurahan Mentikan, Kecamatan Prajuridkulon, Kota Mojokerto dengan orang seusianya. Namun setelah mengenal laki-laki jangkung yang biasa disapa Mbah To ini, baru diketahui jika ia tak pernah makan.Suami dari Siti Khoiriyah (42) ini mengaku, setiap hari tidak pernah makan. Hanya obat pereda sakit kepala berbentuk puyer yang ia konsumsi, ditambah air putih, kopi dan rokok. “Setiap hari, paling sedikit 12 bungkus puyer saya minum. Tidak pernah makan, paling air putih atau kopi dan rokok saja,” ungkapnya, Rabu (07/11/2012) tadi pagi.

Puyer yang ia konsumsi pun tak sembarangan, karena bapak dua anak ini hanya mau minum puyer cap Walang Kerik. Kebiasaan mengkonsumsi puyer itu, sudah berjalan selama 30 tahun. Berawal dari sakit meriang yang ia rasakan sekitar tahun 1982 silam.

“Asal mulanya, tahun 1982 lalu saya meriang, kemudian saya kasih puyer langsung sembuh tapi jarak dua jam, meriang lagi. Tiap kali saya kasih puyer, sembuh sehingga keterusan sampai sekarang. Biasanya, saya mulai minum pukul 02.00 WIB langsung dua bungkus, pagi pukul 07.00 WIB tanpa makan,” jelasnya.

Mbah To mengaku, sekali minum ia habiskan dua bungkus sehingga setiap hari-hari paling sedikit dia konsumsi 12 bungkus. Untuk meminumnya pun, tanpa membutuhkan air atau makanan apapun. Puyer itu langsung saja ia masukan ke dalam mulutnya, meski ia mengaku rasanya pahit dan getir tapi tetap dilakukan.

“Harga mulai Rp 25 per bungkus sampai sekarang harganya Rp 500 per bungkus. Saya tidak pernah mengelu sakit gara-gara minum ini, karena memang saya tidak pernah menanyakan ke dokter bahayanya. Saya pernah sakit paru-paru tahun 1989 tapi dokter bilang, itu karena rokok bukan puyer,” katanya.

Meski mengaku tak pernah sakit, namun karena tak pernah makan, pria asli Surabaya ini tak kuat jika melakukan pekerjaan berat. Pria lulusan SMEA Sooko tahun 1972 ini, saat ini menganggur. Aktivitas yang ia lakukan, rutin latihan gamelan di Pendopo Graha Maja Tama Pemkab Mojokerto karena ia tergabung dalam Karawitan Majapahit.

“Dulu kerjanya ya serabutan tapi kalau sekarang sudah tidak kuat kerja, hanya setiap Jum’at rutin latihan gamelan di Pendopo Kabupaten Mojokerto. Untuk beli puyer ya dikasih anak-anak, istri saya jualan di Alun-alun Kota Mojokerto. Kadang yang bikin binggung, kalau puyer di warung depan habis. Biasanya ya saya stok biar tidak sampai kehabisan di rumah,” akunya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here